Boyong Ibu Kandungnya, Lihat yang Terjadi Pada Lelaki Ini


ibu kandung
masnunung.com - Ketika engkau baik dengan orang tuamu, selalu ada kebaikan yang lebih besar diberikan kepadamu. Nasihat itu agaknya benar-benar dipahami oleh Arjun, sebut saja demikian. Berbincang dari hati ke hati dengan saya tadi sore di tempat saya ngetik artikel blog, ada pelajaran penting dapat sobat petik.

Arjun adalah perantau asal Demak, Jawa Tengah. Bagi yang belum tahu pasti di mana itu Demak, mungkin istilah ini akan mengingatkan sobat. Ya, Demak adalah Kota Wali. Di alun-alunnya ada masjid Agung Demak peninggalan para wali, dengan salah satu tiang penyangganya terbuat dari tatal (bekas potongan-potongan kayu).

Arjun merantau ke Tanjungpinang, Provinsi Kepri karena tuntutan hidup. Kepada saya ia mengaku tak lagi memiliki apa-apa di Demak. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Hanya ibunya yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Arjun kecil tak pernah manja, karena tak ada yang dibuat manja. Hingga waktu terus berputar, akhirnya ia merantau ke Tanjungpinang beberapa tahun lalu. Salah satu pekerjaan yang paling lama digelutinya ialah bengkel las teralis.

[Baca JugaUang Koin Ini Jadikan Pemiliknya Kaya Raya]

Karena ingin sekali belajar dan bisa menabung, Arjun termasuk pekerja yang tak suka keluyuyan atau keluar sekadar bersenang-senang. Dan saat saya bertanya apakah ia mengenal banyak tukang teralis, khususnya di Batu IX atau X, tempat saya tinggal, ia menjawab tak tahu.

"Saat kerja teralis ikut orang, saya memang jarang sekali keluar, Mas. Habis kerja, apalagi kalau lembur saya langsung istirahat. Pagi-lagi mulai kerja lagi," tuturnya.

Saat saya sebutkan beberapa tukang teralis yang saya kenal, ia pun menggelang. Kalau saya kenal beberapa tukang teralis karena salah satu hobi saya ngobrol di setiap tempat yang saya singgahi. Meski singgah hanya untuk berteduh dari hujan. Malah Arjun menyebutkan satu nama.

"Itu saja teman tukang teralis, namun sekarang pun tak tahu lagi di mana dia," ujarnya sambil menyebut sati nama. Dan saat itu giliran saya yang menggelengkan kepala, tanda saya nggak kenal nama yang disebutnya hehe.

Saat ini Arjun adalah bapak dari dua anak, tinggal di kelurahan yang sama dengan saya. Ibu kandungnya yang usianya mendekati 60 tahun oun sudah diboyongnya dari Demak beberapa waktu lalu. Memang sudah menjadi keinginannya untuk memboyong wanita yang melahirkannya saat ia sudah berkeluarga.

Pengakuan Arjun, sejak ibunya tinggak di rumah, bersama istri dan dua anaknya ia merasa rezekinya selalu ada. Jangan sobat lihat besar kecilnya rezeki itu dari kacamata sobat saja. Bisa jadi bagi sobat besar, bagi orang lain kecil. Dan sebaliknya. Namun bagi Arjun, setiap rezeki adalah anugerah dan ia merasa wajib untuk bersyukur atasnya.

Statusnya juga bukan lagi karyawan. Ketika merasa sudah memiliki kemampuan dan modal untuk membuka usaha las teralis sendiri, ia pun mundur sebagai karyawan. Ia sampaikan dengan penjelasan sebenarnya dan akhirnya jadilah Arjun seorang bos.

Untuk ibunya, meski ia tak meminta Arjun senantiasa memberinya sebagian dari rezekinya. Arjun juga tahu, uang yang diberikannya kepada ibunya pada akhirnya juga akan dipakai untuk beli jajan cucunya. Cucu ibunya tak lain adaah anak-anak Arjun.

"Mamak saya itu masih terbawa saat masih di kampung, Mas. Ia tak mau diam. Sekarang pun beliau memilih jualan kue di Batu 8," imbuh Arjun.

Ia sudah berulangkali meminta agar ibunya di rumah saja. Saatnya menggendong cucu tanpa harus sudah mencari uang. Toh Arjun merasa ia masih mampu mencari rezeki. Yang dicarinya bukan harta yang melimpah, melainkan cukup untuk biaya kebutuhan dapur, istri, kedua anak dan ibunya.

Dan cukup bagi Arjun juga bukan cukup yang seringkali sobat plesetkan cukup untuk beli pesawat, mobil, istana dan sebagainya.

Arjun bisa mendapatkan order pembuatan teralis pagar, pintu, jendela atau sesuatu lain yang harus dilas ia sudah bahagia. Ia bisa merasakan bagaimana dengan orang lain yang tidak memiliki pekerjaan sementara perus harus tetap diisi.

Arjun ingin dekat dengan ibu kandungnya. Ia ingin merawatnya. Dan ia percaya ada rezeki yang diturunkan Tuhan kepadanya karena alasan doa ibu kandungnya.

Sobat, apakah saat ini sobat ingat bahwa ibu di kampung sana hanya butuh ditelepon? Ibu sobat sangat ingin mendengar suara anaknya yang kini jauh di perantauan. Ambillah ponsel itu, tekan nomor ibu di kampung dan menangislah untuk ibu.

Mungkin sobat tak pernah tahu bagaimana ibu meregang nyawa saat melahirkan sobat ke dunia? Kini sobat sudah cukup mapan. namun angka-angka itu membutakan mata sobat. Sobat tahu ibu di kampung ingin melihat bagaumana sobat sekarang. Saudara-saudara sobat meminta sobat sesekali pulang.

[Baca JugaPegawai Kemenag Simpan Susu Bayi yang Tertinggal]

Dalam alasan terkuat untuk memberikan alasan untuk tidak pulang ialah: sobat sibuk bekerja. Bagaimana jika takdir kematian itu sunggu dekat dengan ibu? Jika itu terjadi, Arjun adalah salah satu anak yang paling bahagia, bisa menjaga ibunya sampai akhir hayat.

Selamat malam semua, semoga kisah nyata yang disampaikan Arjun ini bisa memberikan hal yang berguna. Sukses selalu buat sobat... ***

Belum ada Komentar untuk "Boyong Ibu Kandungnya, Lihat yang Terjadi Pada Lelaki Ini"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel