Dicueki, Ternyata Dia Lelaki yang Melamarmu

masnunung - Perjalanan yang tidak menyenangkan bagi Amelia. Masih suasana lebaran meski hari H-nya sudah berakhir lima hari sebelumnya, terminal bus di sebuah kota kecil di Jawa Tengah pun masih tampak meledak oleh calon pemudik yang mencari tiket balik.

Beruntung sore tadi Amelia mendapatkan tiket dan naik bis eksekutif yang selalu menjadi langganannya. Sewaktu mudik dari Jakarta, beberapa hari menjelang lebaran kemarin pun Amelia menaiki armada yang sama. Sudah terstigma bahwa busnya bagus, pelayanan bagus, jadi rasanya enggan pindah ke lain hati.

Diperkirakan pukul 04.00 WIB, bus akan sampai di Terminal Rawamangun, tempat Amelia turun untuk melanjutkan perjalanan ke rumah kontrakannya. Belum separuh perjalanan, Amelia sudah merasakan kebosanan. Etah sudah berapa kali ia membuka dan menutup layar ponselnya.

jodoh di tangan Tuhan

Saat mencoba menatap jendela, yang terlihat hanya rumah penduduk. Yang ramai justru jalan, sibuk dan hiruk pikuk oleh kendaraan yang hampir kebanyakan mengarah ke ibu kota. Jakarta. Kota yang menarik begitu banyak orang-orang seperti Amelia untuk datang.

Ketika sebuah suara menyadarkan lamunan Amelia, gadis itu menoleh ke arah suara tadi. Rupanya dari seorang lelaki di sampingnya. Aneh, meski dari terminal tadi lelaki itu sudah duduk di sampingnya, Amelia tak merasakan kehadirannya. Jangankan menyapa, melirik pun tak dilakukan Amelia.

[Baca JugaMemanusiakan Sesama, Sopir Ini Diangkat Derajatnya Melalui Biji Jagung]

Sementara si lelaki, yang usianya tak begitu jauh dari Amelia justru dari awal ingin mencoba mengajak bicara. Di suatu kesempatan, si pemuda baru akan membuka mulutnya ketika Amelia tiba-tiba mengambil headset lalu menyumpal kedua lubang telinganya. Mendengarkan lagu-lagu sendu, lagu-lagu patah hati.

"Nanya apa tadi?" kata Amelia sambil melirik pemuda di sampingnya. Sedikit saja.

'Turun mana," jawab si pemuda.

"Rawamangun," jawab Amelia.

Hanya malam merambat, embun sudah mulai membasahi permukaan atas atap bus. Daun pepohonan justru basah. Hewan-hewan malam keluar untuk mencari makan.

Dengan keberanian yang luar biasa, si pemuda akhirnya kembali memecah kebisuan. Menanyakan sesuatu yang bagi Amelia nggak penting banget. Kerja di mana, pulang sama siapa, nanti dijemput atau naik taksi online. Ugh pertanyaan yang tak bermutu, catat Amelia dalam hati.

Gadis berkulit putih ini pun menjawab setiap pertanyaan asal-asalan. Dalam kondisi normal, betapa tidak sopannya Amelia menghadapi pertanyaan orang lain. Entah mengapa, sejak empat lelaki di Jakarta mendekatinya dan semuanya berakhir dengan sad ending, ia seolah menutup diri. Baginya, semua lelaki sama.

Padahal Amelia jelas butuh seseorang untuk hidup di Jakarta. Syukur bisa mendampinginya sampai nanti. Ah, boro-boro sampai nanti. Satu persatu pergi. Ada yang diputuskan Amelia setelah ketahuan selingkuh, ada yang beralasan ibunya tak boleh jalan bareng Amelia. Bahkan ada yang tiba-tiba putus komunikasi namun mengirimkan undangan pernikahan.

Sakitnya tuh di sini.

Hingga perjalanan berakhir di Rawamangun, tak ada yang membekas antara dua penumpang sebangku ini.

***

Amelia diam-diam menggunakan grup perkenalan di internet untuk coba mencari teman. Teman tapi mesra. Yang bisa diajak curhat dan berbincang banyak hal. Gadis ini pun sengaja tak menggunakan nama asllinya, meski harus mengunggah foto.

Rupanya banyak juga penggemar Amelia. Karena pada dasarnya gadis ini cukup menarik. Bahkan sejak SMA beberapa teman sekolahnya naksir, namun Amelia bukan gadis yang gampang takluk kalau urusan asmara.

Demikian juga saat ia kuliah. Bukan hanya satu dua yang mencoba memberikan perhatian, namun tak satu pun yang nyangkut di hatinya.

[Baca JugaTahun 2020 Masih Buat Blog? Nggak Salah?]

Pada suatu malam, ia mendapatkan pesan perkenalan dari seseorang yang menggunakan akun nama asli. Wah ini lelaki keren, berani menyebutkan nama aslinya dan tempat kerjanya. Rupanya sama-sama di Jakarta.

Iseng-iseng Amelia pun meng-accept permintaan perkenalan. Namun Amelia tak ingin terlihat penasaran. Ia biarkan saja mengalir. Dan ternyata kenalan baru yang satu ini orangnya juga terlihat natural, di sela-sela kerjanya hanya menyisipkan ucapan biasa.

Udah makan belum, jaga kesehatan dan sebagainya. Biasa banget, nggak kreatif. Padahal Amelia itu gadis yang paling suka dipuja. Bilang fotonya cantik kek, rambutnya bagus kek atau apalah. Tetapi nyatanya Amelia merasa nyambung.

Beberapa bulan, akhirnya Amelia memberanikan diri untuk mengatakan ia masuk ke grup perkenalan bukan untuk sekadar mencoba. Melainkan sungguh-sungguh ingin mencari pendamping hidup. Ia pun sudah menceritakan banyak kisah sedihnya selama di Jakarta.

Ketika dua hati telah bertaut, pertemuan pertama pun dirancang. Si pemuda yang menyebut namanya Lazuardi akan menjemput Amelia di depan tempatnya bekerja. Harinya, jamnya, pakaian yang dikenakan sama-sama disebutkan. Siapa tahu salah orang.

Hari itu tiba, Amelia menunggu dengan gelisah. Setiap kali ada kendaraan berhenti, entah itu taksi, taksi online, ojek online, dicermatinya. Satu persatu teman sekantor Amelia pulang sambil melambaikan tangan kepadanya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti dekat sekali dengan tempat Amelia berdiri. Belum sempat ia ngoceh dan marah-marah, kaca dapan sebelah kiri dibuka dan di ujung sana, di balik kaca yang terbuka seraut wajah itu terlihat jelas.

"Hai, sorry terlambat," ujar si pemuda sambil menarih rem tangan.

Amelia bingung. Ada rasa malu, terlihat jelas di wajahnya. Namun suara yang tiba-tiba terasa sangat dikenalnya memintanya masuk, karena di belakang ada kendaraan lain.

[Baca JugaBisnis Online Tanpa Modal yang Menguntungkan]

Amelia masuk ketika Lazuardi membukakan pintu dengan menarik handle dari dalam. Ketika Amelia sudah duduk, jemari tangan kanan Lazuari menekan tombol kanan atas di dashboard pintu kanan, dan kaca di samping kiri Amelia pun tertutup. AC masih menyala sehingga panasnya Jakarta tak terasa, berganti dengan sejuknya AC mobil.

Sepanjang perjalanan Amelia menjawab semua pertanyaan Lazuardi. Sementara Lazuardi pun tak sama sekali menanyakan saat ia dicuekin Amelia saat satu bus beberapa waktu sebelumnya. Dan Amelia semakin jatuh cinta dengan Lazuardi.

***

Sebuah undangan ada di atas meja kerja saya. Dari Amelia dan Lazuardi yang akan melangsungkan pernikahannya di Jakarta setelah setahun dua bulan memahami satu sama lain.

Justru saya yang jadi bingung, bagaimana tokoh imajiner ciptaan saya akhirnya menikah hehehe. Begitulah sobat, cerita ini hanya fiksi. Saya hanya mencoba membuat kisah yang sesuai dengan salah satu nasihat yang diberikan ibu saya sejak saya kuliah.

Ibu saya menasihati saya, salah satunya jangan terlalu membenci seseorang meski saya benar-benar membenci seseorang. Sebab Gusti Allah tidak sare (tidak tidur), kalau hanya meruntuhkan hati yang egois, keras, sangat mudah bagi-Nya.

Semoga menginspirasi sobat... Ambillah mana yang baik, buang mana yang tidak baik. Semoga sobat semua bahagia dan diberikan kehidupan yang luar biasa bahagia oleh Gusti Allah. ***

.... dont judge a book by its cover...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel