Kisah Gitar Klasik di Kamar Anak

masnunung - Sungguh saya tak pernah memiliki gambaran jika anak saya, Ilalang akhirnya sekolah musik di Yogyakarta. Dan saat saya memandang gitar klasik yang ditaruh di kamar saat ia pulang liburan ke Tanjungpinang, saya yakin jika Tuhan memang memiliki segala rencana yang tidak diketahui saya, sobat dan kita.

Anak saya bukanlah remaja yang mengawali masa kecilnya dengan sibuk mengenal alat-alat musik. Tidak sama sekali. Bagi saya, sampai kelas 3 SMP ia cenderung remaja yang lebih suka di rumah ketimbang keluar bersama teman-temannya.

gitar klasik


Kelas dua SMP ia baru mengenal gitar yang saya pinjamkan dari teman. Saya tidak pandai memainkan gitar klasik. Boro-boro klasik, main cantik saja nggak bisa. Kalau menyanyi saya malah lebih percaya diri. Kepadanya saya hanya mengenalkan cord dasar sebisa saya.

Ndhuk, Lagu Kenangan


Selebihnya Ilalang mendalami ilmunya lewat cara sekarang, YouTube. Beberapa hari kemudian ia berhasil menyelesaikan sebuah lagu. Saya ingat betul lagu pertamanya yang bisa dimainkan dengan sempurna, yaitu Lagu Ndhuk yang aslinya dibawakan oleh Genk Kobra, sebuah kelompok musik dari Surakarta.

Meski hanya tiga kunci yang diperlukan namun Ilalang sudah senang kala itu. Akhirnya saya antar ke Yamaha Music School Tanjungpinang. Seminggu sekali anak saya les di lembaga keterampilan musik ini.

[Baca Juga: Gaya Hidup Orang-orang Kaya Ini Bisa Ditiru]

Karena kelas tiga, ia harus memilih untuk fokus ke sekolahnya karena menghadapi ujian nasional.

Sambil belajar menghadapi ujian, anak saya browsing sendiri. Akhirnya menemukan jika di Yogyakarta ada sebuah sekolah setingkat SMA yang khusus mengajarkan musik, selain mata pelajaran lain tentu saja.

Namanya SMK Negeri 2 Kasihan, Bantul Yogyakarta. Sebagian orang ada yang menyebutnya Sekolah Menengah Musik disingkat SMM. Sementara saat saya mengantarkannya daftar ulang terpampang tulisan Sekolah Musiknya Indonesia di aulanya.

Bahkan Ilalang sendiri yang mengirim email ke admin sekolah mengenai pendaftarannya yang lebih dulu ketimbang sekolah setingkat pada umumnya. Barulah kemudian Ilalang bercerita ke saya. Wah saya yo kaget, apa iya dengan kemampuannya yang baru segitu mau ujian di sekolah itu.

Karena keinginannya kuat saya hanya berpesan. Sederhana, sebagai orang Islam ia harus tetap menjaga tradisinya puasa senin kamis. Ngaji dan salatnya itu wajib. Saya ingin tahu apakah selama menunggu ujian dan pendaftaran ia bisa melakukannya secara rutin.

Rupanya ujian Tuhan datang. Pada hari terakhir ujian, sore harinya ia jatuh saat bermain dan dua tulang tangan kirinya patah. Patah tebu kata orang Melayu. Patah yang memang ujung-ujungnya tak lagi tersambung.

Dokter bedah tulang memperkirakan tangan itu bisa dipakai di tanggal yang tak memungkinkan Ilalang untuk tetap ingin masuk SMM.

Mencabut Berkas


Karena sudah mendaftar ulang, saya akhirnya mengajaknya ke Yogyakarta untuk mencabut berkas pendaftaran. Sekalian mengatakan kepada pihak sekolah Insya Allah tahun depan mencoba lagi setelah kondisi tangannya sembuh.

Oleh seorang guru, justru disarankan agar mencoba tes. Toh dari belasan guru penguji tidak semuanya tes keterampilan atau memainkan alat musik. Ada tes wawancara mendalam dan entah apa lagi saya tak ingat lagi meski menunggu.

[Baca Juga: Kalimat Bijaksana dari Seorang Ayah]

Dan Tuhan ikut campur tangan. Ilalang adalah satu-satunya siswa sekolah yang diterima tes meski tangannya masih diperban. Saat ujian praktik alat musik, ia hanya mampu memainkan sekian detik lagu klasik yang pernah dipelajarinya di Yamaha Music School. Oleh beberapa guru penguji diminta dihentikan karena tak tega melihat tangannya masih dibalut perban.

Ya, Allah, anak saya diterima. Sementara kepergian ke Yogyakarta tidak membawa persiapan untuk bayar kos setahun, membeli perlengkapan kamarnya, pakaian meski beberapa potong, bayar uang sekolah meski cuma sekali dalam 3 tahun. Dan otomatis gitar klasik.

Keliling Cari Gitar Klasik


Akhirnya saya meminjam sepeda motor teman dan berkeliling untuk mencari gitar klasik. Karena uang saya terbatas, saya belikan yang tidak murah banget tetapi juga tak mahal. Sedang. Terpenting ialah bisa dipakai untuk mengikuti pelajaran sesuai intsrumen yang dipilihnya.

Sebenarnya gitar klasik Yamaha yang ada di Tanjungpinang lebih bagus, tetapi siapa sangka dari niat mencabut lamaran akhirnya justru harus bayar kontrakan dan beli beragam keperluan?

[Baca Juga; Belajar Kebaikan dari Bengkel ban Mobil]

Dua minggu pertama Ilalang harus berkutat dengan perawat ortopedi yang dikenalkan bapak kos Ilalang. Seminggu beberapa kali Mas Mujio, nama perawat tadi dengan telaten menangani tulang anak saya.

Alhamdulillah hari ini kondisi tangan anak saya bisa dikatakan pulih. Bahkan Ilalang menyebutnya merasa memiliki tangan kembali. Dan ia mempersembahkan rangking-rangking terbaiknya di sekolahnya.

Setiap kali saya melihat gitar, saya teringat gitar klasik Ilalang. Perjuangan dan kebesaran Tuhan semakin menyadarkan kami. Kami ini siapa di hadapan-Mu Tuhan? Terima kasih semuanya. ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel