Merancang Taman Wisata Hutan Mangrove

masnunung - Mangrove adalah ekosistem hutan di daerah pantai yang terdiri dari kelompok tetumbuhan yang bisa hidup dalam lingkungan dengan kadar garam tinggi. Mudah untuk menemukan cirinya, yakni akar yang terlihat menonjol di permukaan.

Biasanya hutan mangrove cukup luas, seperti rangkaian pepohonan yang saling berhubungan. Jika dilihat sepintas, hutan mangrove laksana hamparan semak belukar yang memisahkan daratan dengan laut.

taman wisata hutan mangrove

Ketika manusia mulai bosan dengan lingkungan modern dan maju, alam pun dilirik untuk dijadikan destinasi wisata. Dan zaman sekarang ini mendengar wisata hutan mangrove bukan hal yang aneh. Sejumlah daerah pun membuka destinasi wisata ini, terutama yang lokasinya memiliki lautan atau pantai. Karena di sanalah hutan bakau tumbuh.

Beberapa hari lalu saya diajak pengusaha muda asal Kota Tanjungpinang, Ady Indra Pawennari yang memiliki lahan di kawasan Seitiram, Penaga, Bintan, Provinsi Kepri. Lahan seluas hampir 100 hektare itu ditanami bibit bakau bertahun-tahun silam.

[Baca Juga: Rumah Makan Seafood Ini Jauh, Namun Sepadan dengan Masakannya]

Ia mengurusi bisnisnya yang lain, setelah itu ia berpikir untuk membudidayakan lahan bakaunya sebagai tempat tujuan wisata. Kami pun berkesempatan untuk masuk ke dalam lahannya. Beruntung karena sebelumnya ia sudah menanam bibit bakau dengan jarak yang sangat rapi.

Dari bincang-bincang saya dengan pengusaha sabut kelapa dengan orientasi ekspor ini, berikut beberapa hal yang bisa diterapkan di hutan mangrove sebagai tujuan wisata.

Susur Bakau

Melihat bahwa hutan mangrove pasti dekat dengan air laut, maka bisa didesain sedemikian rupa sehingga di dalamnya ada air laut dengan kedalaman tertentu. Gunanya untuki susur bakau menggunakan sampan kayu yang bergerak pelan. Meski hanya duduk di atas perahu dan menyaksikan bakau, nyatanya tak sedikit turis yang rela membayar untuk melakukannya.

Lebih bagus lagi jika di beberapa titik dibuat dermaga sebagai tempat pemberhetian. Sehingga pengunjung bisa sejenak beristirahat, mengambil foto di tengah hijaunya dedaunan bakau.

Jembatan Kayu

Jika sampan akan membawa pengunjung taman mangrove dari sisi luar, wisatawan juga bisa diajak blusukan menembus lebatnya bakau. Caranya, beberapa pohon dikorbankan untuk membuat jalur bagi pejalan kaki.

Cara yang paling tepat ialah membuat jembatan kayu. Papan boleh digunakan, namun kayu bulat yang dipotong-potong akan terasa lebih alami. Sifat kayu bakau yang kuat akan memudahkan pembuatan jembatan kayu. Tali temali bisa dikaitkan pada batang atau akar bakau yang menjulang atau menonjol di atas permukaan air.

Kolam Pancing

Wisata hutan mangrove juga bisa menjual kolam pancing. Sobat pasti tahu, memancing adalah salah satu hobi yang digemari begitu banyak manusia. Di tempat saya tinggal, Pulau Bintan, bahkan pemancing Malaysia dan Singapura sering meluangkan akhir pekannya dengan menyewa perahu. Mereka rombongan memancing ke tengah laut.

Sementara kolam pancing buatan pun tak kalah ramai. Seperti Taman pancing Poyotomo yang juga ada di kaki Gunung Bintan, selalu dipadati pengunjung. Konsep ini bisa dilarikan ke taman mangrove. Ada bidang-bidang tanah berisi air laut dan ikan yang berhadapan dengan lebatnya hutan.

Mendesain kolam pancing di kawasan hutan bakau tidaklah terlalu sulit karena jenis tanaman ini memberikan sifat peneduh. Memang tetap dibutuhkan beberapa pondok atau gazebo sebagai pelengkap.

Rumah Makan Seafood

Bicara wisata tak lepas dari kuliner. Pengusaha muda yang mengajak saya ke lahan bakaunya, Ady, pun merancang sebuah pondok makan seafood di tanahnya. Apalagi jika pengunjung dibiarkan memilih sendiri ikan di tempat penampungannya di alam, diantara pohon bakau.

[Baca Juga: Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, Ternyata Ini Bumbunya]

Di Pulau Bintan sendiri cukup banyak rumah makan yang menyatu dengan bakau. Karena tempatnya yang eksotis, para pemburu kuliner tak akan merasa kecawa menempuh perjalanan jauh untuk menemukan kepiting, rajungan, gonggong atau seafood lainnya.

Biar menyatu dengan alam, tempatnya juga harus menggunakan bahan baku kayu dari alam sekitar. Dibuat pondok atau mengapung, akan membuat penasaran pengunjung.

Penginapan

Kesunyian bagi sebagian orang adalah tempat yang harus dituju. Membuat pondok-pondok sebagai tempat menginap di antara lebatnya hutan bakau tentu ide yang bagus. Tidak usah terlalu dekat jaraknya, untuk menyatukan antarpondok dibuat jalan dari kayu. Jalan ini akan menyatu di ujungnya, yakni jalan keluar atau masuk. Sebaiknya jalan masuk dan keluar dipisahkan untuk mengtisipasi ledakan pengunjung.

Panggung Musik

Memangkas batang pohon bakau untuk dibuat panggung musik tentu hal yang cukup bagus. Di tengah hutan, kesepian hanya akan ditemani irama alat musik akustik. Libatkan para pengunjung untuk berbaur atau beryanyi bersama.

Konsep ini pernah dipakai penyelenggara Bokor Wold Musik Festival 2018 di Kabupaten Meranti, Provinsi Riau. Mereka mendirikan panggung di tepian hutan bakau. Bedanya, konsep yang saya ulsa adalah di dalam kawasan hutan bakau.

Bila konsepnya dibuat matang dan berani, hanya lagu-lagu yang kental dengan suasana alam bisa dimainkan. Wah, akan menjadi rujukan sebagai kafe alam.

Spot Foto

Jangan lupa, zaman now adalah selfie atau swafoto. Hampir semua destinasi wisata pasti menyodorkan sudut foto yang bisa dipakai oleh pengunjung. Sebenarnya ini cara promosi yang tidak mengeluarkan banyak biaya.

Pengunjung yang merasa mendapatkan lokasi cantik untuk berfoto akan melakukannya dan sedetik kemudian gambarnya mengembara di belantara media sosial. Coba sobat ingat-ingat, ada berapa banyak tempat wisata yang kemudian viral setelah dipublish ke media sosial?

Itulah beberapa buah pikiran saya tentang merancang taman wisata hutan mangrove. Jika sobat ingin nemabhakn silakan kirimkan ke email ya, biar bisa menjadi alternatif. Bukankah Indonesia kaya akan potensi wisata alam, termasuk hutan mangove? ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel