Mie Ayam Ini Nyaris Gulung Tikar, Gunakan Trik Ini dan Sukses


mie ayam
masnunungdotcom - Saya punya teman seorang pedagang mie ayam. Rasa masakannya menurut saya tidak terlalu istimewa, namun cukup dikenal di bilangan Bintan Centre, batu 9, Kota Tanjungpinang, Provinsi kepulauan Riau. Dan saya betah menikmati mie ayam racikannya sambil bercerita.

Teman saya ini, sebut saja Tegar, lahir di Buntu, sebuah daerah di Banyumas, Jawa Tengah. Lokasi jualannya di sebelah kiri jalan masuk Perumahan Griya Bestari Permai. Sebuah warung tenda mie ayam tanpa nama. hanya gerobaknya saja bertuliskan mie ayam dan bakso dengan sticker warna kuning.

Tegar baru 7 tahunan di Tanjungpinang. Kepada saya ia bercerita usai sekolah menengah, saya lupa menanyakan maksudnya SMP atau SMA, ia langsung ke Bogor untuk mengadu nasib. Di sebuah perusahaan makanan anak-anak, akhirnya ia berlabuh.

Kehidupan Buruh Pabrik

Menyadari tak memiliki keterampilan khusus, Tegar menjalani kehidupannya sebagai buruh pabrik dengan sungguh-sungguh. Meski ia orang kampung, namun tak silau oleh gemerlap kota. Ia mampu menahan diri karena tujuannya bekerja bukan untuk mencari uang dan menghasbikannya dengan suka-suka.

Uang yang diperolehnya sesuai upah minimum kota (UMK) harus bisa menghidupnya, juga orang-orang tercinta di kampungnya. Sebagai anak, sesekali Tegar juga membantu keluarganya. Untuk itu ia harus pandai mengatur gajinya. Kebutuhan yang dirasanya tak harus dimilikinya segera akan ditundanya.

[Menarik juga dibaca: Buka Jasa Bersih Rumah, Lelaki Ini Miliki 18 Karyawan]

Zaman itu, tak terhitung jumlahnya ia makan mie ayam untuk mengganjal perut. Namun tak pernah terpikir sedikit pun untuk meliriknya lalu dijadikan usaha sendiri. Hari-hari Tegar ialah berangkat kerja, istirahat, dan begitulah rutinitasnya.

Hebat, karena Tegar mampu menjalaninya selama 6 tahun. Dari hasil jerih payahnya ini ia mengaku bisa membeli sebuah sepeda motor. Gagahlah, buruh pabrik bisa membeli sepeda motor sendiri.

Berangkat ke Tanjungpinang

Tahun 2000-an awal, Tegar dikabari salah satu kakak lelakinya yang sudah merantau terlebih dahulu ke Tanjungpinang. Kakaknya ini jualan gorengan di sekitar swalayan di Batu 10. Dikatakan oleh kakaknya, kalau mau berkeringat saja dan tidak malu, Tanjungpinang masih memiliki banyak peluang untuk hidup layak.

Bukannya langsung berangkat. Tegar harus berpikir realistis. Hingga ia masuk ke sebuah kesimpulan, jika tetap bertahan di pabrik maka statusnya akan selamanya buruh. Kenapa tidak mencoba untuk membuka usaha sendiri? Setelah diskusi jarak jauh, akhirnya Tegar pulang ke kampung dan belajar meracik bumbu serta membuat mie ayam.

Sang kakak juga ikut memperhatikan adik kandungnya. Sambil berjualan gorengan ia mencari informasi adakah gerobak mie ayam yang dijual. Sementara waktu, sebelum ada yang menjual gerobak Tegar bisa membantunya berjualan gorengan. Bisa dikatakan sebagai pengenalan dari dunia buruh ke wiraswasta.

Jadi Bos Mie Ayam

Datanglah Tegar yang masih lajang menyusul kakaknya. Rupanya Tuhan tidak membiarkan ia berlama-lama membantu jualan goreng kakaknya. Ketika di Bintan Centre ada kabar tempat jualan sate ayam dijual karena pemiliknya pulang kampung, Tegar pun membayarnya. Lalu ia mengubah gerobak sate menjadi gerobak mie ayam.

Tempat jualan Tegar dari dahulu sampai sekarang tetap, ya di sebelah kiri pintu masuk Perumahan Griya Bestari Permai. Lokasi ini ada di tengah pusat bisnis Kota Tanjungpinang. Berada di kawasan Bintan Centre, dahulu kawasan ini disebut tempat jian buang anak. Namun saat ini kehadirannya mampu menggeser ketenaran Kota Lama yang sebelumnya menjadi pusat perekonomian Tanjungpinang.

Fase perjalanan hidup Tegar dimulai dari sini. Tiga bulan pertama jualan otaknya sudah dibuat pusing. Bayangan awalnya, selepas jualan ia akan sibuk menghitung uang. Memang benar, saat tutup warung tendanya ia pasti menghitung uang penghasilan. Namun yang dihitung bukan penghasilan besih, itu omzet. Masih harus dipotong untuk membeli bahan guna persiapan jualan malam berikutnya.

Dan uang di tangan tak menyisakan hasil setelah dibelanjakan. Bahkan beberapa kali ia harus nombok, mengambil sisa uang sakunya saat berangkat. Jika berpikir pendek mau rasanya ia balik kampung. Namun Tegar sudah berjanji ingin merantau ke Tanjungpinang dan mendapatkan hasil.

Siang hari Tegar berpikir keras bagaimana menaikkan omzet sehingga ia bisa menabung meski sedikit. Akhir bulan ketiga ia mencoba sebuah cara yang merupakan hasil survei pribadinya. Ia sedih setiap melihat ada yang tidak habis menyantap mie ayam buatannya.

- Ramah

Menyadari yang dihadapi juga manusia yang punya hati, Tegar lalu menyapa dengan ramah setiap orang yang masuk ke warungnya. Ia tak segan mengajak ngobrol pembelinya. Kadang tak harus panjang lebar. Cukup dengan menyapa dari mana, kok sendirian, aduh anaknya lucu ya.

Namun Tegar juga mengasah kepekaan, ada orang yang memang tak suka diajak bicara saat makan atau saat duduk menunggu. Ia belajar karakter pembeli yang beragam jenisnya. Siapa saja yang membeli mie ayam dan bakso Tegar pasti melihat keramahan lelaki ini.

- Minta Pendapat

Tidak semua pedagang berani melakukan apa yang dilakukan Tegar. Yakni minta pendapat kepada pembeli bagaimana bumbu makanan buatannya. Dari sini ternyata Tegar mengaku mendapatkan banyak masukan. Dan ia tidak sakit hati sama sekali.

[Yang ini juga menginspirasi: Memanusiakan Sesama, Sopir Ini Diangkat Derajatnya Melalui Biji Jagung]

Buktinya, beberapa orang yang dimintainya pendapat justru kembali dan menjadi pelanggan setianya. Apalagi ketika mereka tahu Tegar mengikuti saran pembeli dan menganggap pembeli masihlah raja. Hati tegar bahagia ketikia ada yang mengatakan mie ayamnya enak.

- Mie Ayam Bakso

Tegar kemudian memikir bagaimana jika membuat kerupuk. Karena biasanya ada pembeli yang menanyakan kerupuk dan ia tak memilikinya. Daripada membeli kerupuk yang sudah jadi, Tegar memilih membuatnya sendiri. Mie ayam saja ia bisa membuatnya, kerupuk juga harus bisa dong, katanya kepada saya.

Sejak saat itu penggemar mie ayam yang ingin menyantap ditemani kerupuk bisa mendapatkannya di kaki lima Tegar. Perantau ini mulai tersenyum. Ternyata banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah usaha. Dan tegar terus dan terus belajar bagaimana memberikan pelayanan terbaik.

Lalu Tegar pun memadukan mie ayam dan bakso sehingga saat ini ada pembeli yang menyebutnya debagai Miso. Alias mie ayam bakso.

- Terima Kasih itu Penting

Satu lagi yang dilakukan Tegar ketika pembelinya beranjak pergi. Tanpa merasa pelit sedikit pun ia akan mengucapkan terima kasih. Bayangkan, betapa mudahnya mengatakan terima kasih. Namun nyatanya tidak semua pedagang menyadarinya. Bahkan selama tiga bulan pertama Tegar pun lupa, karena otaknya sibuk memikir kok sepi kok sepi kok sepi.

Dan Badai Berlalu

Saat ini Tegar menikmati hasil ketegarannya. Rezekinya bahkan ditambah Tuhan dengan mempertemukannya dengan gadis pujaan yang kini memberinya seorang anak. Kadang, kalau saya mampir, saya juga berbincang dengan Tegar dan istrinya. Pasangan muda ini bersyukur sudah diberikan jalan rezeki sebagai pedagang mie ayam.

Jumlah kursi dan meja di warung mie ayam Tegar pun bertambah. Dan hal lain yang membuat Tegar semakin serius bekerja tanpa melupakan ibadahnya ialah, dua saudara kandungnya juga menyusul ke Tanjungpinang. Semuanya membuka usaha yang dirintis dari kecil.

[Kisah ini juga tak kalah keren: Ini Kisah tentang Warung Makan Bude Lasiah]

Salah satu saudaranya bahkan mendapatkan lokasi jualan berada persis di samping lahan jualan Tegar. Dan saya beberapa kali menyaksikan bagaimana makan malam saudara kandung ini dilakukan bergantian. Malam ini Tegar dan kakaknya menikmati ketoprak sang kakak, malam berikuitnya giliran kakaknya yang menikmati mie ayam adiknya.

Sobat, begitulah pelajaran yang dapat saya petik dari seorang Tegar. Jika tulisan ini juga mampu memberikan sesuatu yang bermanfaat, saya ucapkan terima kasih. Toh belajar bisa dari siapa saja, bukan? Bahkan dari pedagang mie ayam. ***

Belum ada Komentar untuk "Mie Ayam Ini Nyaris Gulung Tikar, Gunakan Trik Ini dan Sukses"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel