Pegawai Kemenag Simpan Susu Bayi yang Tertinggal

masnunung - Ada banyak cerita negatif tentang kantor-kantor pelayanan publik di negeri ini. Namun kali ini saya mengunggah sebuah cerita yang saya lihat dengan mata kepala sendiri di Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungpinang. Cerita tentang susu bayi.

Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungpinang ini berlokasi di Jalan  Daeng Kemboja Km. 15, Kampung Bugis, Tanjung Pinang Kota, Kampung Bugis, Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 29115.

Karena sebuah urusan, saya harus datang ke kantor ini. Rupanya saya benar-benar tidak mengingat dengan pasti lokasinya. Meski jalannya baru diperbaiki, aspal hotmix dan cukup lebar. Saya harus nyasar dahulu ke Komplek Kantor Wali Kota Tanjungpinang. Satu wilayah namun beda arah.

susu bayi yang disimpan pegawai kemenag


Saya datang hari Rabu, 15 Januari 2020 menjelang zuhur. Rupanya pejabat yang akan saya temui sedang mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan calon jemaah haji tahun ini. Oleh seorang pegawai saya disarankan untuk kembali hari berikutnya. Karena khawatir acara hari itu akan berlangsung sampai sore.

Selain saya ada juga beberapa warga menunggu. Namun saya tidak mencari tahu apakah keperluannya sama dengan saya atau tidak. Ada yang datang sendiri, berpasangan, ditemani anaknya yang remaja, ada juga yang sambil menggendong balita.

[Baca Juga; Sang Penata Sandal dan Sepatu Jemaah Masjid]

Pada hari ini, Kamis, 16 Januari 2020 saya kembali mendatangi Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungpinang. Sebelum datang saya memang mengirimkan pesan via WhatsApp kepada pejabat yang akan saya temui. Nomor pejabat tersebut saya peroleh dari seorang pegawai yang menyarankan saya kembali, kemarin.

Ada bebarapa orang yang masih harus dilayani pejabat yang juga akan saya jumpai. Namanya juga pelayanan publik, sebisa mungkin apa kepentingan tamu dilayani.

Lalu tibalah giliran saya masuk. Sebuah ruangan yang tak terlalu besar. Mungkin kalau tak ada meja, kursi, almari arsip dan beberapa komputer terasa lapang.

Setiap meja terdapat setumpuk berkas. Ada yang disusun mendatar maupun berdiri. Di sisi depan, berhadapan dengan meja pegawai di ruangan tadi, ada empat kursi yang bisa dipakai tanu untuk antre. Di luar ruang juga ada beberapa kursi yang juga bisa digunakan untuk duduk menunggu.

Seorang lelaki menyambut saya untuk wawancara. Begitulah jika blogger berkunjung, yang dibahas hal-hal enteng namun menarik dan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang.

Saat saya berbincang, beberapa pejabat lain juga keluar masuk. Lalu ada seorang perempuan dan anaknya yang kecil juga masuk. Begitu melihat bocah yang ada dituntun perempuan yang bisa saya pastikan seorang pegawai negeri, pejabat di hadapan saya langsung berkata kepada pejabat lain yang kebetulan masuk.

"Ini dia orangnya, pemilik susu bayi," ujarnya.

Pejabat yang diajak bicara tersenyum sambil melihat si balita yang hari sebelumnya sudah datang namun kembali seperti saya.

Susu bayi yang dimaksud dalam perbincangan ini disimpan oleh pegawai Kantor Kemenag Kota Tanjungpinang di atas kotak infak, di atas kursi warna biru. Saya meliriknya, terlihat beberapa bungkus snack serta sebungkus kecil susu. Mudah untuk mengenalinya, karena bungkusnya masih aslinya dari luminium foil. Namun karena isi susunya tinggal sedikit, digulung saja bungkusnya oleh si ibu.

Dari percakapan singkat tadi saya akhirnya tahu. Ibu tadi membawa bekal untuk anaknya untuk mengantisipasi jika keperluannya di Kantor Kementerian Agama KOta Tanjungpinang tak bisa cepat selesai. Ia pun membekali diri dengan air mineral, beberapa bungkus snack dan susu bubuk yang masih harus diseduh dengan air hangat untuj minum puteranya yang usianya belum sampai 3 tahun.

Ketika kemarin ada kegiatan, saya dan tamu lain termasuk ibu dan anaknya juga disarankan pulang dan kembali hari ini.

Menurut pejabat yang saya temui, jika yang tertinggal itu nasi bungkus bisa jadi sudah tak ada lagi atau disimpan pegawai. Kalau nasi bungkus dianggap makanan yang tak awet, jika tertinggal dan masih bisa dimanfaatkan akan dimakan. Tentu saja menunggu sekian waktu untuk memastikan tamu yang nasinya ketinggalan tak datang lagi. Misalnya ketika kantor tutup.

Dan soal nasi bungkus rupanya juga kisah nyata.

"Baru kemarin, Mas. Saya tanyakan kepada pegawai lain apakah tidak basi? Ketika dibuka dan tidak basi ya bisa dimakan, daripada tak bermanfaat," ungkap lelaki berkumis di depan saya.

[Baca Juga: Sikap Tukang Parkir Ini Mencuri Hati]

Sementara Si IBu yang membawa anak juga tak menyangka jika susu anaknya disimpan oleh pegawai Kantor Kemenag Kota Tanjungpinang. Ia bahkan sudah membeli bungkus yang baru karena malamnya, selepas dari kantor ini ia tak mendapati susu itu di tasnya, dan anaknya butuh minum.

"Kalau isinya tak ada susunya, mungkin snacknya bisa dimakan bersama. Namun ini ada susunya, susu bayi pula. Kalau susunya untuk susu dewasa bisa lain cerita, intinya daripada mubazir," imbuh pegawai yang berbincang dengan saya.

Sobat, apa yang saya lihat hari ini memberikan pelajaran setidaknya bagi saya sendiri. Jika bukan milik kita seyogyanya diperlakukan sedemikian rupa hingga pada sebuah keputusan akan diapakan barang orang lain tersebut.

Mungkin bagi saya, sobat, atau kita apa yang dilakukan hanya tindakan kecil. Namun siapa tahu bagi orang lain dampaknya akan sangat besar? Seperti susu bayi yang dibungkus plastik ini. ***

Belum ada Komentar untuk "Pegawai Kemenag Simpan Susu Bayi yang Tertinggal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel