Pembeli Pulsa Elektrik Ini Bikin Saya Sakit Perut

masnunung - Saat saya tinggal di Perumahan Bidadari Blok B1/17, Seibeduk, Kota Batam, pernah menjalani usaha jual pulsa elektrik. Laris manis saat itu karena pelanggan saya 80 persen karyawan perusahaan Mukakuning yang tinggal di Bidadari atau Bidaayu.

Pulsa elektrik adalah pulsa yang dibeli tanpa menggunakan kartu yang kemudian digesek untuk mendapati kode vouchernya. Dengan pulsa ini pembeli tinggal menyebutkan berapa nomor ponselnya dan berapa paket yang ingin dibelinya.

Saya kemudian memprosesnya dengan mengirimkan ke nomor pusat yang sesuai dengan operator kartu yang sya gunakan sebagai chip all operator. Tak lama kemudian pulsa akan masuk ke nomor pembeli, disertai laporan apakah transaksi berhasil atau gagal.

pulsa elektrik


Harga yang saya banderol termasuk pulsa elektrik murah. Bagi saya, untung sedikit yang penting tiap saat ada yang beli. Kebetulan rumah saya di baris paling depan perumahan sehingga menjadi semacam jalan tembus bagi banyak karyawan perusahaan untuk pulang ke rumah kontrakannya.

Dengan jualan pulsa elektrik murah, karena saya hanya mengambil untung Rp1.000 sampai Rp1.500, padahal kebanyakan saat itu penjual pulsa seperti saya mengambil utung rata-rata Rp2.000 per transaksi.

Saya mendaftar sebagai dealer dari sebuah perusahaan di Juanda, Surabaya. Sangking lancarnya kala itu, setiap hari saya bisa setor deposit ke bank yang ada di Panbil.

Biar tidak ribet saya menggunakan sistem pulsa elektrik all operator, artinya satu kartu ponsel bisa untuk transaksi segala macam nomor. Namun waktu itu operator belumlah sebanyak ini.

Nah, suatu malam, menjelang pukul 24.00 WIB datanglah seorang tetangga yang biasanya memang membeli pulsa. Membelinya juga tak banyak-banyak, paling banyak paket 20. Malam itu deposit pulsa saya lagi habis.

Awalnya ia minta paket 20, karena saya bilang habis ia minta yang 5 saja. Saya kembali tegaskan bahwa saya belum bisa setor deposit lagi. Lagian malam-malam manalah ada bank yang buka. Dan juga belum zamannya bank online yang bisa diinstal di ponsel.

Dengan santainya tetangga saya yang pekerjaannya membantu pemilik sebuah warung ini berkata, "Yo wis mas, koretan-koretan wae yo gpp penting iso SMS sementara."

Artinya, ya sudahn Mas. Sisa-sisanya juga nggak apa-apa yang penting bisa SMS sementara.

Saya langsung ngakak, ketawa tanpa harus dibuat-buat. Tetangga saya yang justru bingung melihat penjual pulsa dibeli sisa pusanya biar habis sekalian kok malah tertawa-tawa.

Setelah saya reda tertawa, saatnya memberikan penjelasan. Bahwa paket pulsa itu sudah ditentukan. Misalnya Simpati 5, 10, 20 dan sebagainya. jadi kalau deposti saya tinggal Rp3.200 ya nggak bisa dipakai untuk transaksi karena paket terendah 5.

Beruntung pembeli pulsa ini akhirnya paham dan ganti tersenyum. Kalau saya ngakak, tetangga saya ini hanya nyengir kuda. Lalu saya sarankan untuk membeli pulsa di ujung jalan siapa tahu masih buka.

Begitulah suka-dukanya berjualan pulsa elektrik. Ada kelemahan satu kartu untuk all operator, prosesnya kadang terganggu dan lambat. Akibatnya, pembeli yang menunggu di depan saya tak juga mendapatkan pulsanya masuk ke ponsel.

Dan tak sedikit yang akhirnya meminta uangnya kembali. Ngotot-ngototan juga pernah. Pulsa akhirnya masuk meski telat, namun uangnya keburu dibawa pembeli karena lama menunggu juga sering.

Kalau yang tinggalnya di perumahan yang sama biasanya sih mengerti. Dan kalau pulsanya akhirnya masuk, ia akan SMS saya memberitahu. Demikian juga kalau tidak masuk-masuk, dan tiba-tiba ada laporan transaksi gagal giliran saya yang kirim SMS ke pelanggan.

Kini, hampir 10 tahun saya tak lagi menjual pulsa elektrik, namun masih selalu menggunakannya. Meski tak membeli di konter, melainkan di internet banking. itulah teknologi. ***

Belum ada Komentar untuk "Pembeli Pulsa Elektrik Ini Bikin Saya Sakit Perut"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel