Tragedi Mangga Arumanis

masnunung - Di desa saya,Bermi, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Jumat sore atau Minggu pagi adalah kegembiraan. Anak-anak bisa bermain, mencari kayu bakar, berenang di sungai atau berburu mangga arumanis.

Jumat saya dan teman-teman hanya bersekolah umum pagi hari, sorenya sekolah madrasah libur. Sedangkan di Minggu pagi kami tak sekolah umum, namun sore harinya sekolah madrasah. Setengah hari libur cukuplah untuk melepaskan kegembiraan.

Saya punya teman-teman bermain yang sering berangkat bersama. Saya masih ingat namanya, meski kalau berjumpa sekarang nggak menjamin ingat lagi. Ada Syarofi, Rasyid, Rufi'i, Wagiyo, Muhlan. Itu yang kuingat hingga kini.

mangga arumanis


Suatu hari di Jumat sore, kami mengembara bak petualang. Tujuannya berenang di Kali Gayam yang jaraknya mungkin ada 7 kilometer dari kampung. Untuk sampai ke sungai ini, kami harus melewati Bunuk Kursi yang kemiringannya sekitar 45 atau bahkan lebih.

Saya harus sangat berhati-hati menuruni jalan tanah setapak. Tak ada undak-undakan yang dibuat untuk menahan langkah. Kalau ingin menahan gerak ada beberapa batang pohon mangga milik tuan tanah. Begitu turun bukit ini, biasanya kami langsung membasuh muka di beningnya air di kali Longgi.

Perjalanan masih harus dilanjutkan melewati jalan setapak yang melintasi tegal atau tanah pertanian warga kampung. Barulah langkah ini berhenti tetkala sampai ke sebuah sungai yang cukup lebar. Ada sebuah batu sangat besar di atas, yang cukup berani akan melompat dari atas.

Sementara yang tak berani mungkin memikirkan bagaimana kalau banaspati menerkamnya? Kala itu di otak kami masih dibenami cerita turun-temurun jika di sungai ini bagian atas ada mahluk bernama banaspati. Bentuknya sampai sekarang pun saya tak pernah melihatnya.

Lalu ada sebuah pohon cukup rindang di ujungnya. Saya lupa pohon apa. sesekali kami harus berkelahi kata dengan warga yang dengan santainya mengajak sapinya masuk singai untuk dimandikan.

Di sungai kampung inilah saya bisa berenang gaya macam-macam. Gaya luncur, gaya ndhodhok, gaya nungging, gaya ular, gaya mengapung dan sebagainya. Nama gaya yang kami ciptakan sendiri, tak akan kalian temukan di buku renang. Bahkan di tingkat internasional sekalipun.

Pulangnya inilah yang seru. kami melewati jalan lain yang sekiranya ada banyak pohon mangga, khususnya yang arumanis. Kalau mangga biasa sih banyak, seperti mangga keong yang dia di tanah pertanian Lik Sih, yang rumahnya di samping rumah ayah ibu.

Mengapa kami mengincar mangga arumanis, karena ukurannya besar. Lalu rasanya aduhai, apalagi yang kami cari ialah matang di pohon.

Di kampung kami memang banyak jenis mangga, namun yang paling populer ya arumanis. Karena berdasarkan apa yang disampaikan orang tua-orang tua kami, buah ini memiliki banyak manfaat.

Meningkatkan sistem imun


Daging mangga rumanis dikatakan memiliki zat yang mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kalau banyak makan buah mangga arumanis, tubuh menjadi hebat, kuat, begitu candaan orang-orang tua kepada kami. Hal ini bagus untuk menangkal antioksidan.

Sumber vitamin C


Kalau mangga memiliki kandungan vitamin C, say dan teman-teman sudah tahu dari pelajaran di sekolah. Kami hanya tahu vitamin bagus untuk tubuh sehingga sebisa mungkin seminggu minimal sekali kami berburu mangga.

Melancarkan BAB


Seperti pepaya, kalau kami sulit buang air besar orang tua kami di kampung menyarankan banyak memakan daging buah, termasuk mangga. Kalau ada mangga arumanis ya malah lebih bagus karena dagingnya banyak dengan begitu diharapkan akan cepat bereaksi.

Menjaga Tekanan Darah Stabil


Kalau yang ini sama sekali tak pernah kami ketahui zaman dahulu. Saya mengetahuinya justru setelah besar, ya hasil baca-baca. Selain itu mangga arumanis juga dikabarkan bagus untuk diet.

Pada sebuah lahan, kami mendongak dan amak oi, banyak yang matang. Gampang tandanya, buah mangga arumanis yang ujungnya berongga karena dimakan codot (kelelawar) itu dipastikan matang. Warnanya biasanya oranye atau kuning tua.

Kami pun mencari senjata masing-masing. Ada yang memetahkan batang ketela yang masih berdiri, ada yang kayu kering, bongkahan tanah, batu dan sebagainya. Satu per satu kami melemparkan senjata masing-masing, berharap bisa menjatuhkan mangga arumanis yang menantang di atas pohon.

Beberapa buah sudah jatuh, kami kumpulkan. Lalu sebuah tragedi terjadi.

Saya mengincar sebutir mangga arumanis matang yang dari tadi sulit ditaklukkan. Lalu dengan sebuah arit saya lempar. Arit menerobos dedaunan, mengenai ranting dan sejenisnya. Saya tunggu jatuhnya untuk dipakai menyawat (melempar) lagi.

Rupanya jatuhnya tepat di tungu kaki salah satu teman saya. Saya lupa, entah Syarofi atau Rasyid. yang jelas langsung terdengar pekikan mengaduh. Darah pun mengucur dari bagian yang luka.

Kami tak lagi memikirkan mangga arumanis. Dengan segera saya berlari menyusul teman-teman saya, menuju kampung. Berkilo-kilometer terus berlari. Berhenti ketika sampai di rumah. Tak butuh waktu lama bagi ibu untuk mengatahui apa yang terjadi.

Lalu kemarahan orang tua pun harus saya terima. Tentu dengan hukuman. Namun saya lupa hukumannya, mungkin karena terlalu sering saya dihukum.

Tragedi mangga arumanis itu masih saya kenang. ***

Belum ada Komentar untuk "Tragedi Mangga Arumanis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel