Bacalah Perjuangan Ruswati Ini, Lalu Tanya Diri Sendiri


Ruswati guru kerdil
masnunung - Ruswati yang saya tulis ini bukanlah orang terkenal. Apalagi jika sobat mengaitkannya dengan fisik. Ia hanyalah perempuan dengan tinggi 125 centimeter. Namun bagi saya, ia adalah kekuatan nyata seorang manusia yang menyadari sepenuhnya akan Gusti Allah.

Sebenarnya tulisan ini pernah saya update di suarasiber.com, namun saya sengaja menulisnya ulang di blog ini dengan gaya yang sama sekali berbeda. Harapan saya, siapa tahu ada yang membaca dan menjadikannya sebuah kekuatan, inspirasi dan motivasi dalam hidupnya.

Ruswati lahir di Kijang, Kabupaten Bintan pada 30 Desember 1975. Menyelesaikan S1-nya di IAID Darussalam, Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1999. Keinginannya menjadi guru mengharuskannya menempuh Akta IV di STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang 2003.

Sambil kuliah Akta IV, Ruswati mengajar sebagai guru TPA di Arrasyid Tanjungpinang. Saat Akta IV ada di tangan, ia mendaftarkan diri sebagai Guru Bantu Pusat (GBP) dan lolos. Itu pada pertengahan 2003.

Suatu pagi, Ruswati diantar ayahnya ke sebuah SD negeri di Tanjunguban. Saat itu moda transportasi sangat sedikit. Beruntung dekat rumah orangtuanya ada sopir truk minyak SPBU. Dengan tubuh sependek itu, Ruswati harus berjuang agar bisa naik.

[Baca juga kisah Zainal, jago pantun yang berteman dengan orang-orang penting karena bakatnya]

Dari rumahnya sampai Tanjunguban butuh dua jam perjalanan. Meski mengantongi nama SD tempatnya bakal mengajar, baik Ruswati maupun ayahnya tak tahu pasti lokasi sekolah tersebut. Alhasil, beberapa kali bapak anak ini nyasar salah tempat.

Alhamdulillah, sampailah Ruswati ke sekolah itu. Bukan kehangatan yang diterima, melainkan negative thinking yang disampaikan seorang guru dengan bertanya: Ibu titipan siapa?

Sobat tahu maksudnya, nggak? Zaman itu kalau mau menjadi honorer diyakini karena katebelece, ada yang membawa. Entah itu pejabat, orang kuat. Dan Ruswati marah besar. Ia sadar, tubuhnya sangat pendek. Namun ia menjadi GBP karena lulus tes, tanpa bayar.

Karena kepala sekolahnya rapat, Ruswati menyusul ke tempat pimpinan SD tersebut rapat. Belum habis rasa kecewanya akibat pertanyaan soal titipan, kembali ia harus menelan kesedihan. Kepala SD tempat ia seharusnya diterima mengajar menolak dirinya.

Penolakan itu tentu sangat membakas di hatinya. Namun Ruswati tidak akan pernah mengungkapkannya. Ia hanya menuliskan kalimat seperti ini di buku pertamanya Sepenggal Kisah Si Guru Kerdil :

… tak elok kutuliskan segala perkataan beliau di sini, biarlah menjadi rahasiaku saja…

Sobat, Tuhan tidak pernah tidur. Lewat Pak Faizal, Kacabdis Tanjunguban saat itu, Ruswati dipindahkan tugasnya ke sebuah SD di Teluksasah, dan tinggal di rumah dinas guru. Bahagia? Iya, karena akhirnya bisa mengajar.

Sedih? Masih ada, karena lokasi ini belum ada listrik, bahkan harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan air. Hanya ada 30 murid di sekolah itu. Ruswati jelas takut. Akhirnya ia ditemani ayahnya selama seminggu.

Malam pertama ditinggal ayahnya, Ruswati sama sekali tak bisa tidur. Hingga pagi hari, ia sudah berdandan mengenakan baju yang pantas untuk mengajar. Namun sesampai di sekolah, murid-muridnya meneriakinya.

Guru kok kecil, guru kok kuntet (kerdil - Jawa) dan semacamnya. Sakit? Ruswati lupa bagaimana rasa sakit itu. Ia mengubah pola pikirnya, bagaimana menjadikan kekurangannya sebagai kelebihan. Dengan percaya diri, ia akhirnya nyaman bekerja. Bahkan membantu mengajar mengaji di sebuah TPA dekat sekolah usai mengajar.

Karirnya pun berpindah, saat diterima sebagai pengajar di Pondok Pesantren Madani Ceruk Ijuk, Bintan. Di sini ia jalani dari 2006 sampai 2011. Ruswati terus berjuang hingga saat ini ia adalah seorang pegawai negeri.

Sobat, Ruswati tidak minder apalagi keder saat ini. Ia adalah pengajar yang penuh semangat. Ia aktif di Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Toapaya. Jabatannya sekretaris.

[Peduli kepada ibu kandungnya, lihat apa yang dialami lelaki ini]

Ruswati juga didapuk di Seksi Pengembangan Organisasi, Adminsitrasi Sarana dan Prasarana KKG PAI Provinsi Kepulauan Riau. Pada tahun 2011 ia menjadi pemenang pertama Lomba Guru PAI SD tingkat Kabupaten Bintan. Di tahun yang sama ia juara tiga Lomba Guru PAI SD tingkat Provinsi Kepulauan Riau.

Bukan kerdil sembarang kerdil
kerdil-kjerdil si cabe rawit
badan boleh saja kerdil
cita-cita setinggi langit

Pantun itulah yang selalu diucapkan Ruswati setiap kali mengawali presentasi atau sambutan berbagai acara.

Namun sebagai manusia dan perempuan biasa, Ruswati tetap berharap suatu saat Allah mengirimkan paket terbaik. Dalam salah satu sub judul di bukunya, Menanti Paket dari Allah, Ruswati mengawalinya hanya dengan satu kata: Nikah.

Lalu sepi.

Dalam kesepian, cobalah sobat tanya ke diri sendiri. Apakah perjuangan yang sobat alami seperti yang harus dijalani Ibu Guru Ruswati? Dan sobat senantiasa mengeluh? Berpikir Tuhan tidak adil?  ***

Belum ada Komentar untuk "Bacalah Perjuangan Ruswati Ini, Lalu Tanya Diri Sendiri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel