Bicara Kerajinan Tangan: Maksud Saya Sama Jeleknya, Mas

kerajinan tangan
Salah satu unsur kerajinan tangan ialah fungsi pakai.
Foto - instagram/artistikstiker
masnunung - Dahulu kala, ya sekitar 7 atau 8 tahun lalulah, saya masih menyewa sebuah ruko di Jalan Bintan, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Di sini saya bergelut dengan kerajinan tangan, yakni stiker. Meski menggunakan mesin cutting, kehadiran tangan tetap diperlukan.

Bicara kerajinan tangan, perlengkapan tubuh yang biasanya digunakan untuk memegang atau mengambil sesuatu ini berperan penting. Okelah, sticker memang dicutting pakai mesin. Tetapi ngopekinya, menempelkannya satu persatu tetap butuh tangan.

Terlihat sederhana memang, tetapi pada dasarnya kerajinan tangan yang saya kerjakan beberapa tahun lalu itu tak semua orang bisa melakukannya. Dan saya sering kedatangan para penyintas dari daerah lain yang berhenti di depan saya menyusun sticker. Baik untuk stok di toko atau pesanan orang lain.

Sobat yang ingin baca-baca seputar dunia cutting sticker bisa mengunjungi blog saya di cuttingstickerupdate.

Menurut saya, agar bisa disebut kerajinan tangan sebuah karya harus memenuhi beberapa persyaratan. Diantaranya yang saya tuliskan di bawah ini.

Adanya Sentuhan Tangan

Kerajinan tangan adalah sentuhan tangan. Menyentuh bukan berarti cuma menempelkan antarkulit. Lha kalau sebuah karya sudah jadi, lalu kehadiran tangan cuma berperan membawa dari satu tempat ke tempat lain saya kira bukan kerajinan tangan.

Atau sebuah pekerjaan yang dilakukan mesin dari proses awal sampai akhir, lalu ada tangan yang mengelus-elusnya, merabanya, ya bukan kerajinan tangan. Jadi pada dasarnya di sini ada peranan tangan yang cukup dominan. Tanpa bantuan bagian tubuh ini sebuah karya tak akan terbentuk.

Baca juga kisah mba Sri yang menyediakan nasi menu makan siang gratis setiap hari Jumat

Memiliki Fungsi Pakai

Dengan fungsi ini, sebuah kerajinan tangan dituntut untuk memiliki kegunaan atau fungsi. Sekarang saya coba contohkan, sticker cutting apakah memiliki unsur ini. Menurut saya iya. karena sebuah sticker yang dibuat dipastikan akan digunakan untuk keperluan tertentu.

Sticker jenis menu pada gerobak para pedagang kakilima, berfungsi menunjukkan kepada orang lain bahwa itu tempat berjualan martabak, kue lapis, rumah makan dan sebagainya. Atau ada yang memasan papan nama lokasi, ini malah lebih jelas fungsinya. Unsur kerajinan tangan terpenuhi di sini.

Memiliki Fungsi Hias

Selama saya menekuni usaha tersebut, sudah sangat banyak sticker yang dipesan bukan sekadar untuk papan nama lokasi, papan penunjuk arah, papan monografi, jenis dagangan untuk gerobak. Tak sedikit yang diaplikasikan di kendaraan atau dinding sehingga sticker cutting sebagai kerajinan tangan memiliki fungsi hias di dalamnya.

Mendesain sebuah bentuk yang diminta pemilik kendaraan, meski hanya berbentuk rangkaian abjad, pasti dibutuhkan sentuhan seni. Kalau dibuat dengan huruf arial black semata, mungkin semua orang juga bisa mengerjakannya. Apalagi ada komputer untuk mendesain dan mesin cutting yang mengerjakan pemotongan otomatis.

Bahkan beberapa orang malah meminta dibuatkan sticker dinding. Biasanya mereka adalah pemilik rumah yang ingin ruang tamunya dihiasi dengan ornamen tertentu agar terlihat lebih indah. Sticker cuttingnya menyesuaikan dengan ukuran dinding.

Untuk menjelaskan hal ini, mungkin hiasan dinding di kafe-kafe bisa dijadikan contoh. Tetapi bukan yang hiasan tangan, ya. Yang dibuat dari sticker cutting. Ini membuktikan sticker cutting juga kerajinan tangan.

Baca juga cara move on dari rasa sakit hati ala Rasulullah SAW

Kerajinan Tangan Sama Jeleknya

Suatu hari saya kedatangan seorang penjual bakso keliling. Saya mengenalnya karena sering lewat depan ruko yang saya sewa. Bukan kenal namanya, namun mengetahui pekerjaannya.

Datang ke kios saya dan mas penjual bakso ini melihat-lihat bahan sticker yang ada. Juga sticker yang sudah jadi di dalam etalase atau pajangan meja kaca. Ia juga tampak asyik ngobrol dengan saudara saya yang membantu menjaga toko.

Cukup lama seingat saya, ada 20 menit. Hingga pada akhirnya ia bertanya kepada saya, berapa harga bahan sticker pendek ukuran 45 centimeter untuk setengah meter. Saya jawab harganya lalu saya tanya, mau dipakai untuk apa bahan itu.

"Dipasang di mana, Mas," tanya saya.

"Di gerobak jualan, Mas," jawab dia.

"Kok nggak sekalian dicutting saja?"

"Apa itu, Mas," imbuh pedagang bakso tadi.

Lalu saya jelaskan, saya ambil beberapa contoh. Kebetulan ada pesanan daftar menu untuk kaca gerobal pesanan orang lain yang belum diambil. Saya letakkan di depan dia dan diamatinya kerajinan tangan itu.

Pikir saya, setelah mendapatkan penjelasan seperti itu ia akan meminta dan dibuatkan dengan mesin cutting biar rapi. Saya juga sempat perlihatkan di monitor komputer saya, ada banyak huruf yang bisa dipilih. Untuk menentukan ukurannya juga mudah, tinggal mengukur media atau bagian di gerobak bakso dorongnya yang akan dipasang.

Lalu percakapan pun berlanjut.

"Beli bahannya sajalah, Mas," kata dia.

Saya potongkan dan dia menyerahkan uang seharga bahan yang dibelinya.

"Benar nggak ingin dipotong pakai mesin saja?" tanya saya sebelum ia beranjak.

"Sepertinya akan lebih menyenangkan kalau saya guntingi sendiri," jawabnya.

"Bisa sama nanti, Mas? Itu di bagian belakang bahan sticker ada kotak dengan ukuran per centimeter. Pakai patokan itu saja," saya memberitahu.

"Insya Allah samalah, Mas. Maksud saya sama jeleknya, kalau di komputer kan pasti sama dan bagus," jawabnya tanpa merasa bersalah.

Baca juga kiat sukses pedagang mie ayam ini berkelit dari masa sulit

Saya dan Mbak Is, saudara yang membantu menjaga toko, benar-benar tak mampu menahan tawa mendengar jawaban tadi. Untungnya Si Mas justru ikut tertawa lalu pergi menuju gerobak baksonya yang diparkir di seberang jelan depan ruko yang saya sewa.

Perbincangan tentang kerajinan tangan yang menyenangkan dan menghibur. Sebuah kepercayaan diri dari seorang pedagang bakso. Tetapi saya tidak berprasangka. Bisa jadi ia jago mengukir huruf dengan gunting, seperti para tukang sticker sebelum ada mesin cutting. ***

Belum ada Komentar untuk "Bicara Kerajinan Tangan: Maksud Saya Sama Jeleknya, Mas"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel