Dompet dan KTP Hilang di Lokasi Kecelakaan

masnunung - Dompet dan KTP hilang di lokasi kecelakaan benar-benar terjadi. Dan ini menimpa teman saya pada saat ia mengalami kecelakaan di sebuah pertigaan di ujung Jalan Sidoreja, Tanjungpinang, sore tadi, Minggu, 17 Februari 2020.

Saat saya tengah menghadapi keyboard komputer meja, sebuah telepon masuk. Hanya nomor yang tertera di layar. Saya angkat dan dari seberang sana terdengar suara Marco, teman saya, pemilik kios pembuatan pelat nomor kendaraan yang tempat usahanya hanya berjarak 700-an meter dari "kantorku".

ktp hilang

Dengan suara gugup ia memberitahukan jika teman saya, Joni, mengalami kecelakaan. Pada saat menelepon ia menjelaskan korban masih terkapar di tengah jalan. Marko menanyakan apakah saya menyimpan nomor anggota keluarga Joni. Saat saya katakan tak ada, ia mengakhiri teleponnya.

Sobat, Joni adalah seorang tukang urut yang setahu saya hidup sendirian. Saya mengenalnya karena pernah menyewa sebuah kamar di sebelah temat yang juga saya sewa. Kemudian ia pindah ke sebuah kamar yang lokasinya juga tak terlalu jauh dari tempatnya pertama.

Kepada saya ia memang banyak bercerita. Namun saat saya tanya mengapa hidup sendiri, ia pasti lebih suka mengalihkan pembicaraan. Sepertinya ia tak ingin saya mengetahui apa yang terjadi dengan saudaranya. Kepada banyak orang, ia hanya mengatakan lahir di sebuah tempat di Bintan, dan ayah ibunya sudah meninggal.

Lelaki ini hanya lulus kelas 3 SD, namun yang saya tahu ia tak pandai membaca. Salah satu alasan mengapa ia sering berkunjung ke tempat kerja saya karena minta tolong menghapuskan history panggilan dan pesan singkat yang masuk ke ponselnya.

Joni masih menggunakan ponsel zaman old. Itu pun ia hanya tahu menerima panggilan. Untuk menyimpan nomor orang lain ia akan minta tolong orang lain. Begitulah, setelah saya hapus history panggilan dan pesan singkat di ponselnya, biasanya akan ngobrol beberapa menit.

Ketika pertama kenal saya sempat khawatir, bagaimana ia mengelola uang. Membaca saja tidak tahu. Rupanya Tuhan memang Maha Adil. Untuk urusan uang, Joni tak perlu minta tolong ke saya. Ia bisa menghitung dan mengenal mata uang yang ada. Dan saya bersyukur.

[Mau makan takut uangnya nggak cukup? Coba baca artikel ini]

Mengaku belajar mengurut orang dari seseorang di Singapura, lelaki yang selalu menjaga rambutnya tetap kelimis ini memang hidup dari mengurut orang. Bahkan ia tak jarang jalan kaki berkilo-kilo meter untuk mendatangi rumah pasiennya.

Saya pernah main ke kamar kos Joni, menjelang lebaran. Di kamarnya menumpuk belasan minuman kaleng. Ia mengatakan setiap tahun baru, lebaran dan imlek ia selalu banyak mendapatkan bingkisan minuman kaleng dari para pasiennya.

"""
Kira-kira satu jam dari kecelekaan yang menimpa Joni, datang sebuah mobil di tempatku. Seorang lelaki yang mengemudikan mobil keluar dan bergegas. Ia kemudian berbincang dengan adik saya yang ada di ruang sebelah.

Kebetulan adik saya adalah salah satu dari beberapa orang yang melihat langsung terkaparnya Joni di simpang jalan. Dan adik saya pun ikut mengangkat tubuh Joni ke dalam mobil yang dihentikan polisi. Mobil itu kemudian berangkat ke rumah sakit.

Kepada adik saya, pengemudi mobil menanyakan apakah melihat dompet Joni. Adik saya mengatakan tidak tahu. Ia hanya turut membantu. Bukan karena mengenal Joni, tetapi karena saat itu ia ada di dekat lokasi kejadian.

"Nggak tahu, Mas. Saya hanya bantu mengangkatnya ke dalam mobil. Ada beberapa orang juga yang mengangkat, karena badan Joni kan besar," jawab adik saya.

Sejurus kemudian lelaki itu menjelaskan, ia berniat mengurus asuransi. Namun karena KTP hilang bersama dompetnya, ia kesulitan untuk mengurusnya.

Ketika ia kembali ke mobilnya dan berlalu, saya berdoa semoga lelaki tadi merupakan kerabat Joni. Setidaknya ada salah satu saudaranya yang mengetahui kecelakaan ini.

***
Hanya hal sepele sebenarnya yang bermain di kepala saya. Jika Joni tak membawa domoet sore itu, pasti identitas dirinya bisa ditemukan di kamar sewanya yang baru. Beberapa hari yang lalu ia main ke tempatku dan mengatakan sudah pindah kamar kos, di sekitaran Batu 8 Atas. Hanya saja ia tak menjelaskan secara detil lokasinya.

[Nggak percaya ada warung makan gratis di Tanjungpinang? Klik ini]

Namun jika sore itu ia membawa dompet di saku celananya, saya masih berpikiran positif mungkin malam ini atau lusa ada yang menemukannya di semak-semak sekitar kecelakaan. Saya membuang jauh-jauh praduga atau prasangka bahwa seseorang sudah mengambil dompet itu.

Saya nggak pernah berpikir ada yang mengambil keuntungan pada saat kemalangan. Ada yang berniat jahat di waktu yang sungguh tak tepat. Dan jika itu benar terjadi, saya tak bisa membayangkan baagaimana di zaman sekarang hidup tanpa KTP.

KTP hilang adalah bencana. Karena saya pernah mengalaminya. Apalagi segala urusan administrasi biasanya memerlukan benda yang namanya KTP.

***

"Saya pulang dulu, ya. Ini barusan membeli gula," itulah kalimat yang diucapkan Joni saat meninggalkan tempat saya. Dan tak ada 30 menit kemudian Marko menelepon.

Sepulangnya dari rumah yang salah satu kamarnya pernah disewa oleh Joni dan mengatakan tak tahu saudaranya, saya dibonceng teman ke lokasi kecelakaan. Saya sudah tak melihat Joni, karena sudah dibawa ke rumah sakit.

Namun saya masih melihat ceceran gula di tengah jalan. Menyebar ke permukaan aspal. Putih warnanya. ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel