Jawaban Pedagang Keripik Usus yang Membuat Malu


masnunung - Satu jam lalu, saya berniat ke tempat kerja di Jalan Sidoreja, Batu 5, Tanjungpinang. Namun saya membeli sesuatu dahulu ke Batu 2. Sesampainya di belakang Polres Tanjungpinang, saya lihat ada warung baru dibuka, Soto Lamongan.

Lantaran ingat ada teman yang sudah menunggu di tempat kerja, saya minta kepada ibu penjualnya untuk dibungkus. Sambil menunggu pesanan saya dibuat, seorang pemuda menghentikan sepeda kayuhnya di depan warung.

Lalu ia masuk, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggungnya. Rupanya ia mengeluarkan satu renteng (satu ikat memanjang ke bawah) keripik usus ayam. Dengan sopan ia berjalan mendekati satu persatu pembeli Soto Lamongan tadi. Setiap meja didatanginya, apapun jawaban para pembeli ia balas dengan senyuman.

Tampaknya pemuda tersebut sudah terbiasa dengan pemilik warung. Karena saya lihat keduanya bercakap-cakap.

Seorang bapak yang juga memarkir sepeda motornya di samping saya kemudian memanggil pemuda penjual keripik usu ayam tadi. Saya lihat tak ada satu pun pengunjung Soto Lamongan yang membeli dagangannya. Melihat ada yang memanggilnya dengan lambaian tangan, pemuda tadi mengambil tas punggungnya yang ditaruh di atas salah satu meja di dalam warung.

Ia masukkan kembali dagangannya ke dalam tas. Ia tarik reslitingnya baru berjalan ke arah bapak-bapak yang memanggilnya. Sejurus kemudian saya lihat bapak tadi mengeluarkan selembar uang kertas, Rp10.000.

[Pernah kehilangan dompet saat mengalami musibah kecelakaan?]

Si Bapak memberikannya ke pemuda sambil mengatakan ia ingin memberi.

Namun apa yang dilakukan pemuda penjual keripik usus ayam ketika mendengar apa yang disampaikan Si Bapak kepadanya?

"Saya nggak mau, pak," katanya sambil kembali mendorong telapak tangan Bapak yang menyodorkan uang.

"Saya ikhlas Dik," kata Si Bapak.

Kemudian pemuda penjual keripik usus ayam mengatakan, sambil sebelumnya meminta maaf, bukannya tak mau menerima uang pemberian itu. Namun ia lebih suka bekerja berjualan kerisik usus ayam untuk mendapatkan uang.

"Kalau Bapak bersedia, boleh membeli keripik saya," ujar pemuda.

Mendengar penuturan lelaki muda di depannya, ia pun mengangguk. Si pemuda kembali membuka tasnya dan mengeluarkan dagangannya. Ia ambilkan tiga bungkus kripik usus ayam dan memberikannya kepada pembelinya. Berikutnya ia menerima selembar uang kertas Rp10.000 tadi.

Bukan hanya saya, beberapa pembeli Soto Lamongan pun tertegun menyaksikan apa yang barusan mereka lihat.

Sebenarnya, tak ada yang istimewa tatkala si pedagang keripik usus ayam menerima pemberian seseorang. Toh sudah dikatakan bahwa uang yang diberikan itu ikhlas. Pasti bukan hal yang harus diperbincangkan lama-lama di kedai.

Rntah mengapa bagi saya semuanya menjadi menarik ketika mendengar secara langsung percakapan dua orang tadi. Yang satu memberikan sesuatu, yang diberi menolak dengan sebuah alasan yang membuat saya malu.

[Perjuangan ibu guru ini sungguh luar biasa, baca yuuuk...]

Berapalah keuntungan satu bungkus keripik usus ayam? Dan saat saya tanya, si pemuda mengatakan ia menjualkan barang orang lain. Tentu saja ia harus berbagi keuntungan dengan pembuat keripik usus ayam tadi. Namun dengan ketegasan ia mengatakan, ia berjualan bukan menerima uang pemberian orang lain tanpa harus bekerja apa-apa.

Terima kasih Gusti Allah, satu lagi saya belajar hidup dari seseorang. Anak muda. Pengendara sepeda kayuh. Pedagang keripik usus ayam. ***


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel