KIsah Warung Makan yang Harus Pindah Lokasi

warung makan sederhana
Warung makan sederhana ini akhirnya mendapatkan kembali pelanggan baru dan sebagian pelanggan lama. Foto 0 masnunung
masnunung - Sebuah warung makan sangat sederhana berdiri di sebuah persimpangan jalan di salah satu sudut Kota Tanjungpinang. Sangat sederhana karena menumpang di tanah seseorang, sedangkan terasnya atau tempat makan pebelinya ada di tepi jalan persis.

Namun warung ini lumayan ramai. Selain harganya yang ekonomis, posisinya juga pas jika didasarkan pada kemudahan akses. Ada tiga jalan yang bertemu di simpang ini, dan jalan tersebut cukup ramai oleh lalu lalang warga.

Saat usia warung makan ini menginjak lima tahun, tiba-tiba sebuah keputusan harus diambil. Pemilik lahan menjual tanahnya karena dibeli seseorang yang ingin membuka sebuah usaha kuliner di atasnya. Karena status warung makan sederhana tadi hanya menumpang, mau tak mau pemiliknya harus pindah lokasi.

Jika pemilik warung makan sederhana tadi memiliki modal yang cukup, saya rasa ia akan pindah dan mencari lokasi lain yang lebih bagus. Menyewa kios atau ruko misalnya. Namun pemiliknya bukanlah orang berkantong tebal, sehingga begitu tanah tempatnya jualan selama ini dijual jalan satu-satunya ialah pindah. Pindah untuk mencari tempat yang masih terjangkau.

Setelah beberapa hari mencari, akhirnya suami istri yang selama ini mengelola warung makan sederhana tadi mendapatkan tempat. Sebuah lahan yang sebelumnya kebun, ada pepohonan dan semak. Setelah tercapai kesepakatan sewanya, akhirnya pemilik warung makan sederhana mulai menyiapkan warungnya.

[Kisah nyata seorang guru yang menjemput seorang muridnya hanya untuk mengajaknya ikut UN]

Pepohonan ditebang, semak dibersihkan dan paling utama ialah tekstur tanahnya. Yang awalnya tak rata kemudian diratakan dengan peralatan sederhana. Salah satu keuntungan lahan baru ialah lokasinya lebih tinggi dari tempat pertama. Juga masih terdapat pepohonan tinggi sehingga cukup sejuk. Lokasinya juga ada di tepi jalan besar, meski bukan jalan utama tetapi sudah diaspal.

Namun sebuah tempat usaha yang pindah lokasi biasanya memiliki satu permasalahan. Yaitu berkurangnya pelanggan setia. Hal ini wajar dan bisa dialami oleh pemilik usaha lain, bukan hanya dirasakan Bapak dan Ibu Sabar (saya sengaja kasih nama samaran karena berbagai pertimbangan).

Pasangan suami istri perantau ini rupanya sudah terbiasa dengan hal-hal yang dianggap orang lain kejadian luar biasa atau mengejutkan. Soal pindah lokasi pun tak sedikit orang yang menanyakan mengapa pindah, padahal yang bertanya sebenarnya tahu pasti jawabannya.

Bapak dan Ibu Sabar adalah tipe orang yang tidak gumuman (heran) dengan apa yang dialami atau terjadi pada hidup. Tanpaknya keduanya sudah meyakini bahwa mencari rezeki di bumi Allah selalu ada peluang untuk mendapatkan kebaikan. Asalkan selalu menjaga tabiat sebagai seorang pedagang.

Saya termasuk pelanggan meski tidak begitu setia. Katakanlah, mungkin istilah yang tepat Teman Tapi Mesra. Saya sering kangen dengan masakan Ibu Sabar yang terasa pas di lidah. Namun ada sekitar empat kali datang pada sore hari, warungnya tutup. Padahal saya sudah sengaja mengambil jalan memutar agar melewati warung itu.

Barulah tiga hari lalu saya merasa beruntung mendapati warung makan sederhana itu buka. Langsung saja saya duduk dan memesan makanan. Saya lihat di samping ruang makan sebuah gerobak teronggok. Lalu saya cermati etalase warung, alhamdulillah rupanya sebuah gerobak modern sudah mengambil alih gerobak yang disimpan samping ruang makan tadi.

Menunya juga semakin beragam. Sementara halaman warung juga tak lagi membuat khawatir pembeli yang memarkir sepeda motornya. Sebelumnya, hanya berupa tanah. Sekarang sudah dibeton, posisi sepeda motor yang diparkir lebih stabil. Bagi pembeli yang membawa mobil, juga bisa parkir di tepi jalan.

Lalu saya berbincang dengan Ibu Sabar yang sore itu ditemani anak lelakinya. Justru anak lelakinya yang menyuguhkan dan mengambilkan makanan untuk saya.

"Sering ke sini dan tutup ya, Mas?" tanya Ibu Sabar.

Pertanyaan tersebut saya jawab dengan iya. Bukan satu atau dua kali, lima kali ada saya lewat dan warung tutup.

"Alhamdulillah Mas, sekarang sering habis siang. Jam tiga atau empat sudah habis," lanjut Ibu Sabar.

Saya hanya terdiam mendengar pernyataan tersebut. Padahal saya menebak, mungkin ia dan suaminya pulang kampung atau alasan lain.

[Pengakuan seorang pedagang keripik usus ayam keliling ini benar-benar mengejutkan]

Rupanya saya tidak kebagian makanan pada beberapa kali kedatangan karena makanannya sudah habis dibeli warga.

Saya makan, sementara kepala saya meyakini sebuah hal: Tuhan selalu adil. ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel