Mengakui Kesalahan Diri, Apakah Sesulit Itu?

masnunung - Manusia adalah tempatnya lupa. Dan hal itu kerap dijadikan senjata bagi orang-orang yang tak ingin mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya. Pokoknya ngeyel hingga yang berhadapan dengannya akhirnya mengalah. Buat apa ribut-ribut kalau apa yang disampaikannya tak satupun dianggap benar.

Celakanya kalau orang yang berbuat salah justru tidak menganggap apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kesalahan. dengan demikian ia akan melupakan sebuaha kesalahan dengan cepat. dan tak menutup kemungkinan suatu ketika ia akan mengulangi berbuay kesalahan, meski bentuknya tak sama.

mengakui kesalahan
Butuh keberanian untuk mengakui kesalahan. Foto - pixabay/geralt
Lebih celaka lagi orang yang berbuat salah sebenarnya tahu ia salah. namun untuk mengakui kesalahan itu terhadap pihak yang bersinggungan ia tak memiliki keberanian. Orang jenis ini akan lebih tersiksa hatinya. Saat berhadapan dengan orang yang terkait sebuah masalah akibar kesalahannya, ia langsung teringat dosa itu dan memikirkan azab Tuhan kelak.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh seseorang yang berbuat salah dan ingin mengakui kesalahannya itu.

Terhindar dari Dosa

Sebagai umat beragama, berbuat kesalahan terhadap orang lain bisa dikatakan telah berbuat dosa. Melakukan fitnah terhadap teman sekerja sehingga yang bersangkutan akhirnya dikeluarkan dari tempatnya bekerja. Menyebar berita bohong kepada seseorang. Memukul, mencaci, menghardik orang lain hanya karena kesal dan sebagainya.

[Merasa dipandang sebelah mata? Mengapa tak coba membaca artikel ini?]

Pada saat setan menguasai hati, yang ada dalah kemarahan. Seseorang tiba-tiba bisa meledak-ledak emosinya. Namun tatkala hatinya tengah dingin, dan mencoba memikir ulang apa yang telah diperbuatnya, ia akan meminta maaf kepada orang tersebut. dengan mengingat bahwa berbuat kesalahan adalah sebuah dosa, sobat akan menjaga perbuatan agar terhindar darinya.

Bukan Soal Menang Kalah

Masih banyak pola pikir menggelayut di kepala kita, jika meminta atau mengakui kesalahan adalah sebuah kekalahan. Padahal untuk sebuah kebaikan, hendaknya kesampingkan dahulu urusan menang dan kalah. Yang dibutuhkan ialah kembalinya suasana atau persahabatan yang baik.

Karena masih ada anggapan mengakui salah itu kalah, akan mempengaruhi perasaan manusia dan mengakibatkan berat untuk melakukannya. Apalagi jika yang melakukan kesalahan itu orang berpangkat, punya kedudukan tinggi dan sejenisnya. Sementara ia melakukan kesalahan kepada orang kecil atau katakanlah warga biasa.

Berani Berlapang Dada

Mengakui kesalahan diri sendiri adalah sebuah sikap patriotik. Orang itu berani berlapang dada menghadapinya. Padahal bisa jadi saat meminta maaf mengakui kesalahan ia bisa mendapatkan perlakuakn yang kurang mengenakkan. Namun nyatanya ia berani menerima apapun risiko demi mengakui sebuah kesalahan.

Jika saat melakukannya ia bisa dicaci atau diperlakukan tak sewajarnya, baginya tak penting. Ia lebih mementingkan tak lagi menyimpan beban hanya karena berbuat salah lalu sembunyi tangan.

Selanjutnya Serahkan ke Tuhan

Setelah mengakui kesalahan yang diperbuat, biarkan berjalan apa adanya. Setidaknya sobat sudah tak lagi merasa terbebani. Urusan yang dimintai maaf memberikan jawaban yang baik atau lainnya, serahkan saja kepada Tuhan yang maha agung. Itulah sikap ikhlas yang juga sangat sukar untuk dilakukan.

Sobat saya yang baik hati, itulah beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan bila merasa memiliki kesalahan yang harus segara diakhiri.

Bagi muslim, mengakui kesalahan sebenarnya sudah diajarkan oleh Rasulullah. Bayangkan, jika Rasulullah adalah seseorang yang paling dicintai Allah, namun selalu mengakui setiap kesalahan yang diperbuatnya.

Teladan Rasulullah

Dari hadits An-Nasa’i dan Abu Dawud dari Abu Said bin Jubair diceritakan suatu ketika Rasulullah membagikan seuatu kepada sahabatnya. Tiba-tiba ada yang kejatuhan pelepah kurma yang dibawa Rasulullah hingga mengenai kakinya. Sahabat tadi menjerit kesakitan.Kepada sahabatnya, Rasulullah meminta untuk membalasnya sambil minta maaf. Namun sahabat mengtakan sudah memaafkan hal tersebut.

[Kafe ini menyediakan menu makan siang sepusanya bayar seikhlasnya setiap Jumat]

Kisah lain dari Ibnu Umar yang dikutip dari buku Peace, dan Respect: 30 Teladan Nabi dalam Pergaulan. Saat mengimami salat, Rasulullah ragu dengan surah setelah Fatihah yang dibacanya. Usai salat ia memanggil seorang makmum, Umar bin Khattab, yang membenarkan jika Rasulullah ada keliru membaca surah. Mendengar hal itu Rasulullah berkata kepada Umar, "Aku lupa, mengapa kamu tidak mengingatkan."

So, apakah sobat akan berdiam diri pura-pura lupa sudah melakukan sebuah kesalahan. Atau segera melakukan pengakuan diri atas kesalahan dan meminta maaf? ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel