Mengapa Lampu Lalu Lintas Merah, Kuning dan Hijau?

masnunung - Pagi tadi saya melintasi persimpangan jalan di depan Swalayan Albaik, Batu 8 Atas, Tanjungpinang. Belum benar-benar di persimpangan ketika saya harus mengentikan sepeda motor, karena kendaraan di depan antre lampu lalu lintas menyala hijau.

Saya berhenti persis di depan warung terakhir menghadap jalan. Di sudut halaman depan sebelah kiri, kalau dari posisi saya di depan agak serong kiri, terdapat tiang peringatan bahwa di depan ada lampu lalu lintas.

lampu lalu lintas
Rambu peringatan menjelang lokasi lampu lalu lintas di Simpang Albaik, Tanjungpinang. Foto - masnunung
Anehnya, warnanya bukan lagi merah, kuning dan hijau. Papan peringatan yang dipasang beberapa metar dari lampu lalu lintas ini pasti terlihat oleh semua pengguna jalan yang antre untuk jalan ketika lampu menyala hijau. Dengan catatan posisi mereka berhenti ada di belakang tanda, jika sudah berada di depan tanda namun sebelum lampu lalu lintas, ya tidak melihat.

Tiangnya cukup tinggi, saya rasa sesuai standar instansi terkait. Bentuk rambu-rambunya juga cukup besar, dengan warna dominan kuning. Saya bahan yang digunakan sudah bagus, yakni prismatik dengan tekstur sarang tawong.

[Sebuah kejadian membuat pemilik warung makan kecil harus pindah, nyatanya malah semakin maju]

Di dalanya dibuat logo menyerupai lampu lalu lintas berupa kotak dengan tiga lingkaran yang dibuat menurun. Paling atas adalah warna putih (seharusnya merah), di bawahnya kuning dan paling bawah hijau.

Mungkin tak akan berpengaruh apa-apa sih menurut saya dengan warna merah yang luntur menjadi putih. Cuma kok agak aneh. Apalagi saat saya ambil foto di artikel ini lampu lalu lintas di persimpangan sedang menyala merah.

Sejarah Lampu Lalu LIntas

Sobat, lampu lalu lintas merupakan rambu peringatan terpenting yang ada di persimpangan. Tanpa kehadiran rambu ini, akan berpotensi terjadinya kecelakaan karena sesama pengendara akan saling berebut mendahului.

Saya dapatkan referensi dari laman Carscoops, kota yang pertama kali memasang lampu lalu lintas adalah London, Inggris. Pada kala itu masih tahun 1860-an lho, dan kendaraan yang ramai melintas ialah kereta kuda dan pejalan kaki.

Zaman itu belum menggunakan tenaga listrik otomatis seperti sekarang ini. Masih menggunakan tenaga gas karena listrik belum lahir Lampu lalu lintasnya hanya bertuliskan stop dan go, hasil kreasi seorang ahli mekanik bernama Lester Farnsworth Wire. Beberapa lama kemudian karyanya diperbarui dengan menambahkan lampu merah dan hijau agar terlihat di malam hari.

Lampu lalu lintas ini kemudian dipasang di persimpangan Bridge Street dan Great George Street pada 9 Desember 1868. Sayangnya lampu penanda ini hanya bertahan sebulan. Benda tersebut kemudian meledak dan melukai seorang petugas yang kebetulan ada di dekatnya.

Penyempurnaan Warna Lampu Lalu Lintas

Lampu lalu lintas yang ada di Inggris kemudian menginspirasi warga negara Amerika bernama Garrett Augustus Morgan. Ia pun mengubah tata letak lampu bahkan menambakan satu warna di antara merah dan hijau, yaitu kuning.

Garret menambahkan warna kuning dengan tujuan ada jarak waktu kapan pengendara boleh mulai jalan lagi dan kapan berhenti.

Butuh waktu yang panjang untuk menyempurnakan lampu lalu lintas bertenaga listrik. Yaitu pada 1922, buah karya opsir polisi bernama William Potts. Lampu lalu lintas pada zaman ini pun dipoperasikan secara otomatis.

Alasan Pemilihan Warna

Sobat, pemilihan lampu lalu lintas merah kuning hijau rupanya tidak dibuat asal-asalan. Para penemu juga melibatkan pakar psikologi yang mampu menerjemahkan simbol. Artinya, semua dibuat dengan pertimbangan kelimuan yang matang.

Merah digunakan sebagai simbol berhenti, lantaran sudah sejak lama warna itu dipercaya sebagai peringatan adanya bahaya atau ancaman. Warnanya yang terang dan berani membuat orang lebih mudah sadar. Dalam kaitannya dengan lampu lalu lintas, mereka memutuskan untuk lebih berhati-hati.

[Siapa mau menjadi donatur nasi Jumat berkah yang sudah berjalan minggu ke-24?]

Bahkan tak sedikit yang mengidentikkan merah sebagai darah. Bayangkan sobat, di persimpangan saat melihat merah terbayang darah, pasti akan lebih waspada.

Sedang kuning dimaknai sebagai warna peralihan.

Warna terakhir pada lampu lalu lintas adalah hijau, melambangkan kebebasan. Hijau ditafsirkan menjadi warna kelagaan setelah sabar menanti lampu merah dan kuning.

Begitulah sejarah lampu lalu lintas di dunia dan sampai ke Tanjungpinang, semoga bermanfaat. Tetap menjaga ketertiban dan disiplin berlalu lintas. ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel